Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0
Revolusi Industri 4.0

Perkataan Revolusi Industri Keempat atau The fourth Industrial Revolution, menjadi buzz-word setelah diperkenalkan oleh Klaus Schwab pemimpin World Economic Forum pada tahun 2016. Kata Revolusi Industri Keempat ada yang menyingkatnya menjadi 4IR atau industri 4.0. Salah satu revolusi besar dalam kehidupan manusia ialah pergantian sumber penghidupan dari berburu binatang liar, mencari makanan dari hutan dan tanaman liar, pada kegiatan pertanian dan peternakan dengan lokasi yang tidak berpindah-pindah.

Kegiatan pertanian menetap ternyata memberi produktivitas yang jauh lebih tinggi, dan memungkinkan manusia bermukim di satu tempat dan diikuti peningkatan jumlah manusia di bumi. Inilah pembenar terbentuknya kota, konsentrasi kegiatan dan penduduk. Revolusi Industri Keempat adalah rangkaian proses terkini pada salah satu sektor ekonomi, yaitu industri, tetapi dengan potensi dampak luas pada hampir semua sektor ekonomi dan bidang kehidupan manusia.

Sepintas Perkembangan Revolusi Industri

Dari sebutannya, Revolusi Industri ke-4 mempunyai pendahulu berupa tiga revolusi industri sebelumnya yakni:

  1. Revolusi Industri Pertama, berupa penemuan mesin uap oleh James Watt pada tahun 1769. Mesin uap pertama kali digunakan dalam industri kapas dengan bahan bakar batu-bara. Lahirnya teknologi baru itu telah melipatgandakan produksi kapas dari 22 ribu menjadi 366 ribu pound, sedangkan biaya produksi turun drastis. Penggunaan lanjutan dari mesin uap ialah dalam transportasi berupa kereta-api dan mesin cetak. Kereta api mendekatkan jarak antar kota atau antar pusat produksi dan atau dengan tempat konsumsi, yang berpengaruh besar pada sistem perdagangan.
  2. Revolusi Industri Kedua, adalah gabungan antara penemuan minyak, motor bakar, tilpon, yang merupakan kombinas kompleks antara sistem komunikasi dan energ Kaitan kompleks antar kegiatan internal perusahaan minyak yang juga menghasilkan banyak jenis produk, menuntut pengelolaan sentralistik. Hampir bersamaan dengan pengembangan sistem pengelolaan minyak di Amerika Serikat muncullah tilpon yang ternyata mampu mempersatukan komunikasi untuk seluruh negeri tersebut. Tilpon perlu listrik, yang ternyata berkembang sejajar dalam era Revolusi Industri Kedua. Perpindahan dari mesin uap ke listrik meningkatkan produktivitas pabrik 300 persen.
  3. Revolusi Industri Ketiga. Terdiri dari kombinasi lahirnya sistem komputer dan sistem digital. Di dalamnya orang menemukan munculnya semikonduktor, komputer besar (mainframe computing), komputer personal, dan internet. Dengan Revolusi Industri Ketiga, sistem terpusat dan hierarkis industri berkembang pada sistem yang lebih desentralistik, yang dimungkinkan oleh penyebaran meluas dari teknologi informasi. Situasi baru ini memunculkan apa yang disebut sebagai collaborative commons, disertai sistem ekonomi dengan biaya marjinal mendekati nol, mendukung sistem desentralisasi kegiatan produksi.
  4. Revolusi Industri Keempat, menurut WEF telah dimulai sejak awal abad ke-21. Hal vital ialah perubahan revolusioner berupa meluasnya internet dan telpon genggam, sensor yang makin kuat dan kecil, makin murah, kemajuan dari teknologi artificial dan machine learning. Kemajuan teknologi yang beragam semua mendukung adanya Revolusi Industri 4.0. Capaian dari Revolusi Industri Ketiga berupa collaborative common dan biaya marjinal hampir nol adalah tetap terintegrasi dalam Revolusi Industri Keempat. Sumber energi dalam industri 4.0 ialah energi hijau (green energy). Karakteristik setiap revolusi industri dapat dilihat dalam tabel 1 berikut. Revolusi Industri Keempat ditandai oleh sistem siber-fisikal, integrasi keduanya.

Rangkaian empat revolusi industri di atas dapat dilihat secara terpadu dalam tabel 1 berikut.

Tabel 1. Karakteristik Setiap Revolusi Industri

Periode Periode transisi Sumber energi Capaian teknik utama Industri terkait utama Alat transport
I: 1760-1900 1860-1900 Batubara Mesin uap Textil, Baja Kereta api
II: 1900-1960 1940-1960 Minyak, Listrik Motor bakar Metalurgi, mobil, bangunan mesin Kereta api, mobil
III: 1960-2000 1980-2000 Nuklir, Gas alam Komputer, robot Mobil, Kimia Mobil, pesawat terbang
IV: 2000- 2000-2010 Energi hijau Internet, Cetak 3D, Rekayasa genetik Industri tingkat tinggi Mobil listrik, Kereta api super cepat
Sumber: Prisecaru, P. (2016). “Challenges of the Fourth Industrial Revolution.” Knowedge Horizons. Economics, 8(1), 57-62. Web https://search-proquest-com-ezproxy.libraries.udmercy.edu:2443/docview/1793552558?Accountid=28018

Sumber: Min XU et al: The fourth industrial Revolution. Opportunities and Challenges. in International Journal of Financial Research Vol. 9, No. 2; 2018 J. Open Innov. Technol. Mark. Complex. 2018, 4, 21

 

Sedikit lebih luas Revolusi Industri Keempat

Revolusi Industri Keempat mengintegrasikan dan mengaburkan batas-batas sistem fisik, digital dan biologik. Penggabungan ini sungguh berbeda dengan proses yang dialami masing-masing revolusi industri sebelumnya terutama pertama dan kedua, di mana setiap revolusi lebih dominan terjadi dalam satu produk atau sektor tertentu. Revolusi Industri 4.0 mencakup pabrik cerdas, sistem siber-fisikal, organisasi mandiri (self organization), sistem baru distribusi dan pengadaan, sistem baru dalam pengembangan produk dan pelayanan, penyesuaian pada kebutuhan manusia, serta tanggung jawab sosial korporasi. Ini adalah cakupan kegiatan yang luas dari revolusi industri ini, yang jauh lebih besar dari revolusi industri pendahulu.

Seperti disebut tadi, RI4 menggabung sistem fisik, digital dan biologi. Klaus Schwab menyatakan empat kelompok manifestasi fisik dari trend besar yang akan mendukung Revolusi Industri Keempat: kendaraan otomatis, cetak 3D, robot, dan material baru.

  1. Kendaraan otomatis atau kendaraan tanpa pengemudi: truk, drones, mobil, pesawat terbang. Beberapa telah dalam uji coba, seperti percobaan kendaraan otomatis Google, sedang drones sudah banyak digunakan masyarakat luas yang berjalan dengan baik. Beberapa pabrik otomoti telah juga melakukan percobaan sendiri dalam kendaraan otomatis.
  2. Cetak 3D (3D printing), yaitu pembuatan satu produk dengan menambah lapisan demi lapisan pada produk sesuai dengan gambar yang dibuat. Proses ini disebut juga additive manufacturing. Saat ini digunakan dalam membuat mobil, obat-obatan, dan lain-lain. Ini membuka peluang produksi yang sangat bersifat individual, tidak perlu lagi dalam pabrik besar seperti sekarang ini. Ini sungguh membuka desentralisasi produksi yang luas.
  3. Robot terkini jauh lebih canggih dari robot yang telah dikenal dipakai seperti dalam industri otomotif, sebab lebih fleksibel dan adaptif yang dapat digunakan dalam banyak bidang, sejak dari pertanian presisi hingga nursing.
  4. Material baru sungguh tidak terbayangkan sebelumnya, sebab lebih ringan, lebih kuat, didaur ulang, dan lebih mampu menerima berbagai beban. Kemajuan teknologi material akan membuka banyak perubahan struktur produk, terutama yang akan menerima atau menahan beban bergerak, seperti untuk pesawat terbang atau otomotif.

Selanjutnya disebut dalam kelompok digital, bahwa Internet of Things (IoT) adalah jembatan penghubung antara sistem fisik dan sistem digital. IoT menghubungkan setiap benda dengan setiap orang dalam jaringan global yang terintegrasi: orang, mesin-mesin, sumber daya alam, sistem produksi, jaringan logistik, arus daur ulang dihubungkan oleh sensors dan berbagai alat penghubung yang makin berkembang dengan cepat. Hubungan timbal balik ini menghasilkan banyak data, Big Data, yang menjadi masukan sistem analitik yang dapat berupa AI, program dan instrumen lain. Semua mendukung aplikasinya pada banyak bidang seperti pengelolaan kota, sistem transpor, jaringan energi, dan sebagainya. Penempatan sensor dalam banyak tempat, seperti jalan-jalan kota untuk mengukur lalu-lintas, data pencemaran, getaran di ruang kota, aliran air dalam pipa, dan sebagainya. Sensor-sensor ditempatkan pada bagian lain, seperti perubahan volume air sungai untuk deteksi banjir saat hujan, potensi tanah longsor, adanya bagian hutan yang terbakar, ancaman angin ribut. Juga untuk memantau tingkat logistik barang-barang dalam ekonomi, tingkat nasional, regional, kota dan desa. Dari sisi lain sensor dapat ditanamkan dalam tubuh orang mengetahui perkembangan kesehatan, dan sebagainya. Sensor menjadi komponen pengumpul data dalam semua sistem.

Dalam bidang biologi, salah satu penggunaan menonjol ialah dalam genetik misalnya. Orang membutuhkan waktu 10 tahun menyelesaikan Human Genome Project dengan biaya $ 2,7 miliyar. Sekarang orang dapat melakukan hal itu dalam beberapa jam dan dengan biaya lebih kecil dari 1000 dollar. Banyak dari tantangan kesehatan sejak dari penyakit jantung, kanker, mempunyai kaitan pada masalah genetika. Berarti kemudahan mengetahui susunan genetika setiap orang akan sangat membantu pengobatan. Seterusnya akan dimungkinkan menghasilkan biologi sintetik, yang akan membuka jalan bagi pengobatan, pertanian dan produksi biofuel.

Orang dapat menambahkan bahwa Revolusi Industri Keempat terjadi dengan proliferasi teknologi informasi dalam semua industri: primer, sekunder dan tersier. Dengan pernyataan lain, dalam Industri 4.0 terjadi ekspansi horizontal teknologi informasi. Bila dalam revolusi industri sebelumnya, perkembangan teknologi terkait lebih terpusat pada sektor tertentu, maka di sini terjadi penetrasi yang menembus semua sektor ekonomi. Terjadi interkoneksi kreatif antara teknologi dengan semua pasar dalam seluruh industri, yang berbasis teknologi informasi. Atau disebut lain adalah kombinasi kreatif dan terbuka antara teknologi dan pasar melalui inovasi terbuka, atau pertumbuhan didasarkan pada model bisnis terbuka.

Revolusi Industri Keempat telah menciptakan produk dan pelayanan baru yang ternyata tanpa biaya tambahan berarti (zero marginal cost), hal yang telah terbentuk dalam Revolusi Industri Ketiga. Perkembangan baru lebih menguntungkan konsumen. Banyak produk baru seperti internet, telpon cerdas, ribuan aplikasi, membuat kehidupan lebih mudah, dan lebih produktif. Alat yang terlihat sederhana seperti tablet, untuk membaca, menjelajah, komunikasi, mempunyai kapasitas memproses serupa dengan 5000 komputer desktop 30 tahun lalu. Biaya penyimpanan data saat ini lebih kecil dari $0.03 per GB per tahun, sangat murah dibanding 20 tahun lalu sebesar $ 10.000. Situasi inilah yang mendukung Revolusi Industri Keempat lebih jauh dari pendahulunya.

Saat ini dunia menghadapi periode yang menampilkan disrupsi teknologi utama berupa:

  • Fusi teknologi antara inteligensia artifisial dan robotik, yang memunculkan proses produksi baru dalam manufaktur dan pelayanan, dengan penggunaan sumber daya rendah, terutama tenaga kerja. Perluasan penggunaan robot dengan presisi tinggi meningkatkan produktivitas dan sekaligus mutu produksi.
  • Teknologi digital akan masuk secara massif pada semua sektor dan akan membangkitkan pelayanan baru serta interaksi lebih dekat dengan konsumen. Termasuk dalam hal ini dalam sektor pertanian yang selama ini berada di luar jangkauan teknologi ini. Efisiensi tentu meningkat, dan banyak dari produki fisik akan digantikan oleh produk digital, seperti surat-kabar menjadi digital, pelayanan transport lebih sederhana, teknologi cetak 3D (3 dimensi). Ini dengan jelas bersifat mematikan banyak kegiatan saat ini.
  • material berbasis bio dan sumber energi akan menggantikan material berbasis minyak dan energi lama. Bioekonomi berbasis pengetahuan dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
  • konsumen akan berperan besar dalam Revolusi Industri Keempat, sebab teknologi digital akan membuka peluang untuk evolusi ekonomi berbagi (sharing economy) seperti dalam mobilitas, makanan, peralatan, dan sebagainya. Perubahan selera konsumen tentu akan vital bagi kelangsungan satu bidang usaha, bersifat disruptif, sehingga memaksa perusahaan untuk merobah perencanaan satu produk dalam berbagai aspeknya.

Dampak kombinasi, baik antar teknologi dengan pasar yang banyak ragamnya, akan merobah secara besar-besaran ekonomi pada hampir semua tingkatan sejak lokal hingga global, di mana industri baru muncul dan industri tradisional akan tergusur. Tetapi sayang dalam bidang ketenagakerjaan, terjadi pelangkaan sejumlah tenaga kerja kompetensi tertentu sedangkan kelompok tenaga kerja lain akan melimpah. Ini justru adalah hasil sampingan dari Revolusi Industri Keempat di mana teknologi baru digunakan dengan efek sampingan pada pengurangan atau penggantian tenga kerja.

 

Aspek Ekonomi dari Indutri 4.0

Klaus Schwab telah memberi peringatan bahwa efek ekonomi Industri 4.0 bertentangan dengan harapan masyarakat umum untuk memperoleh sistem ekonomi yang lebih adil-merata, tidak akan lebih timpang. Ternyata Gordon (2016) telah mengangkat isu yang sama, dikaitkan pada Revolusi Industri Ketiga, pendahulu dari Revolusi Industri Keempat. Pencapaian tersebut berlawanan dengan hasil Revolusi Industri Kedua, di mana hasil kinerja dari inovasi teknologi menyebar ke semua lapisan masyarakat berupa pengurangan jam kerja serta peningkatan upah, yang dipicu oleh kebijakan New Deal Presiden Roosevelt. Terlihat di sini betapa besarnya pengaruh kebijakan yang dikeluarkan menyertai satu revolusi industri. Walaupun Revolusi Industri Kedua lebih terpusat pada sektor tertentu, namun dampaknya berupa pengurangan jam kerja dan upah, berlaku dalam ekonomi nasional pada umumnya.

Dengan melihat proses dalam Revolusi Industri Keempat, ketimpangan ekonomi telah dapat diperkirakan. Dan ternyata dari data lapangan menunjukkan ketimpangan makin tajam, seperti dicontohkan oleh banyak negara maju dan China, di mana proporsi upah dalam persentase PDB mengalami penurunan berarti. Sungguh mengherankan di sini bahwa RRC yang berhaluan sosialis/komunis, gejala ketimpangan terjadi seperti dalam negara kapitalis yang merupakan negara maju saat ini. Ternyata setengah dari penurunan itu akibat pengurangan harga relatif dari barang investasi yang dimungkinkan oleh kemajuan inovasi, lalu mendorong perusahaan mengganti tenaga kerja dengan modal. Berarti keberhasilan teknologi menjadi pemicu pengurangan kebutuhan tenaga kerja, tanpa diimbangi munculnya kegiatan penyerap tenaga kerja baru, sebab revolusi itu merasuk pada hampir semua sektor dan kegiatan. Jadi penerima manfaat utama revolusi industri keempat ialah: investor, innovator dan pemegang saham, sedang tenaga kerja sebelumnya malah berkurang. Inilah yang mejelaskan peningkatan ketimpangan antara mereka yang tergantung pada tenaga kerja dan pemilik modal.

Yang menjadi pertanyaan, kebijakan mana yang harus disiapkan dalam ekonomi satu negeri, bila Revolusi Industri Keempat akan dilakukan? Ini adalah pertanyaan mendasar untuk menghindari munculnya ketidakstabilan sosial.

Dengan melihat prosesnya, di mana tenaga kerja dieliminasi atau digantikan teknologi maju, maka perlu menjadikan pemicu eliminasi atau pengurangan tenaga kerja menjadi bagian dari faktor vital pembentuk kebijakan. Bila upah menurun, maka keuntungan meningkat, sebab implementasi penggunaan teknologi pasti telah lebih dulu melihat untung ruginya, apakah tetap dengan sistem produksi yang ada dengan tenaga kerjanya atau ganti dengan teknologi baru. Tenaga kerja biasanya menjadi bagian vital biaya produksi, dapat mencapai 60 persen biaya produksi. Studi Gordon di atas menunjukkan tendensi penurunan porsi upah dalam PDB.

Hal kedua ialah sistem pajak. Pajak masih terus menjadikan penghasilan orang per orang sebagai salah satu landasan penentuan pajak, baik dari besaran maupun dari jumlah pembayar pajak. Dengan demikian dalam rangka pengurangan ketimpangan serta juga untuk menjaga keberlanjutan ekonomi, maka landasan penentuan pajak baru ialah tingkat keuntungan yang diperoleh unit usaha. Konsep ini seolah-olah memindahkan landasan pajak pada komponen yang meningkat akibat peningkatan keuntungan dari pengurangan tenaga kerja.

Dengan melihat gejala perkembangan perusahaan di mana ada kecenderungan adanya unjuk rasa akibat perbedaan sudut pandang dalam berbagai hal antara kelompok tenaga kerja dan perusahaan dan atau manajemen, maka penggantian tenaga kerja oleh teknologi dapat lebih menentramkan situasi perusahaan bila sistem baru diberlakukan. Penghasilan dari kenaikan pajak keuntungan akan digunakan untuk membangun sistem lain yang akan lebih mengembangkan SDM secara lebih luas untuk membangun kegiatan ekonomi lain yang lebih besar. Konsep ini tentu masih perlu penyempurnaan dan perluasan cakupan kajian terkait.

 

 

Literatur singkat

Belleflamme, P., Martin Peitz (2016): Platforms and Network Effects. Working Papers, University of Mannheim, Germany.

ILO, OECD (2015): The Labor Share in G20 Economies. Report, Turkey.

Lee, MinHwa, et al (2018): How to Respond to the Fourth Industrial Revolution, or the Second Information Technology Revolution? in J. Open Innov. Technol. Mark. Complex. 2018, 4, 21

Rifkin, J. (2014): The Zero Marginal Cost Society. by PALGRAVE MACMILLAN® in the U.S.—
175 Fifth Avenue, New York, NY 10010.

Schwab, Klaus (2016): The Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum. Swiss.

Tapscott, D., A. D. Williams (2006): Wikinomics. Penguin Group. New York, USA.

WEF, McKinsey (2018): Creative Disruption.

Xu, Min et al (2018): The Fourth Industrial Revolution: Opportunities and Challenges. In International Journal of Financial Research Vol. 9, No. 2; 2018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*