Efek Kebijakan Moneter USA dibanding Zona-Euro

Efek Kebijakan Moneter USA dibanding Zona Euro

Setelah krisis 2008 yang dimulai di Amerika Serikat dan menjalar ke Eropa mencakup Zona-Euro, terjadi perkembangan yang amat berbeda antara dua entitas ekonomi besar itu, AS dan Zona-Euro. Situasi ekonomi yang mengarah pada depresi tahun 1930 memaksa Bank Sentral AS menurunkan suku bunga mendekat nol persen. Tetapi kebijakan itu ternyata tidak membawa hasil, sehingga perlu mencari jalan lain. Hingga saat itu belum ada kebijakan moneter yang menurunkan suku bunga The Fed di bawah nol persen. Biasanya sasaran dari penurunan suku bunga ialah merangsang konsumsi dan investasi sehingga ekonomi bertumbuh.

Lalu dimunculkanlah kebijakan baru, yang dinyatakan sebagai pendekatan Quantitative Easing (QE). Kebijakan itu pada intinya mencari pengganti pada kebijakan lama, yaitu kebijakan suku bunga. Hasilnya, memaksa The Fed (FOMC=Federal Open Market Committee) mencari instrumen baru. Bank Sentral AS membeli aset-aset berupa sekuritas Treasury dan sekuritas yang didukung oleh mortgage (Market Backed Securities) dalam jumlah besar. Situasi ini membuat level suku bunga berada di bawah nol persen, yang dengan kebijakan suku bunga biasa tidak dapat dicapai.

Dalam Zona-Euro, QE masih dapat mencakup beberapa komponen (LTRO, SMP, OMT) tetapi secara keseluruhan sasarannya serupa dengan yang di AS. Situasi pelaksanaan kebijakan moneter di Zona-Euro berbeda dengan yang di AS, di mana Bank Sentral Eropa (ECB) hanya menjaga stabilitas nilai euro atau stabilitas tingkat inflasi. Pencapaian sasaran moneter ini tentu jauh lebih mudah dibanding dengan bila sasaran kebijakan moneter itu masih mencapai tujuan lain seperti menjaga tingkat pengangguran rendah, yang terkait dengan kebutuhan tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu. Dalam pernyataan lain, sasaran yang menyangkut manusia yaitu pengangguran tidak menjadi cakupan tugas ECB, yang tentu terasa amat merisaukan.

Di Amerika Serikat, bank sentral AS, The Fed, diwajibkan menjaga tingkat pengangguran rendah bersama dengan tingkat inflasi rendah. Menjaga tingkat pengangguran rendah terkait erat dengan perlunya sekaligus menjaga adanya tingkat pertumbuhan ekonomi yang sesuai. Ini menjadi tugas lebih berat daripada yang dibebankan pada ECB. Perkembangan ekonomi AS dalam menjalankan kebijakan moneter itu ternyata membawa hasil yang pada mulanya terlihat membawa kelambatan pada pemulihan ekonomi AS. Sukses kebijakan moneter AS di bawah pimpinan Yellen, terlihat selalu diukur pada bagaimana perkembangan angka pengangguran.

Dalam beberapa saat tertentu, tingkat pengangguran itu telah berada di bawah 5 persen dan malah di bawah 4 persen, tetapi kebijakan tingkat suku bunga rendah masih dipertahankan oleh The Fed. Walaupun negara AS adalah negara kapitalis, dan lebih terlihat anti terhadap sistem komunis-sosialis, tetapi kebijakan moneter yang amat ketat memperhatikan situasi pengangguran rakyatnya, sungguh terlihat agak bertentangan dengan sistem ECB yang lebih mendahulukan menjaga tingkat inflasi rendah, tetapi tingkat pengangguran melambung. Pada saat terakhir, tingkat pengangguran di Zona-Euro berada pada kisaran 8-9 persen atau lebih.

Perkembangan ekonomi dua entitas ekonomi besar itu masih akan bergerak pada masa mendatang, dan orang pasti masih melihat bagaimana geliat perkembangan ekonomi yang dikaitkan dengan masalah inflasi dan pengangguran dalam keduanya. Dari sisi konseptual, satu ekonomi yang mampu menjadi tingkat inflasi rendah disertai tingkat pengangguran rendah akan lebih sustenabel, sebab makin rendah pengangguran makin tinggi jumlah orang dengan pengghasilan positif, berarti lebih banyak yang berproduksi, yang berarti akan membayar pajak dalam berbagai bentuk.

Ekonomi yang hanya mengejar tingkat inflasi rendah, akan lebih menguntungkan sistem finansial, yang kemungkinan disertai oleh tingkat pengangguran tinggi. Ada kontradiksi di sini, sebab tingkat inflasi rendah dapat akibat kurangnya daya beli masyarakat luas, dapat akibat dari pengangguran tinggi. Inilah mungkin yang menjadi sumber perbedaan besar dari dua entitas ekonomi besar AS dan Zona-Euro. Walaupun disposable income dengan koefisien Gini rendah di Zona-Euro, tetapi dalam hal tingkat ketimpangan kekayaan, koefisien Gini Zona-Euro ternyata jauh lebih tinggi dari koefisien Gini disposable income.

Dari hasil kajian teoretis makroekonomi dan data berbagai negara diperoleh bahwa tingkat ketimpangan penghasilan lebih tinggi menjadi satu penyebab tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Ini bertentangan dengan tesis dari Arthur Okun dari Harvard yang menyatakan bahwa peningkatan ketimppangan akan mendukung pertumbuhan, sebab menjadi sumber investasi. Tetapi terbukanya peluang investasi dalam instrumen finansial akhir-akhir ini yang tidak selalu menjadi bagian investasi yang produktif walaupun memberi peningkatan nilai menjadi satu distorsi ekonomi global dan lokal. Demikianlah sulit menjelaskan, mengapa ada nilai kekayaan finansial yang bernilai hampir 10 kali besaran PDB di dunia? Itu menunjukkan bahwa perkembangan sektor finansial tidak selalu terkait dengan sektor riil. Ini menjadi satu distorsi besar dalam ekonomi nasional maupun dalam ekonomi global.

 

Bagaimana dengan Indonesia?

Sesuai dengan UU BI (No 03-2004, revisi) dinyatakan bahwa: Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen; Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, lembaga independen dari Pemerintah RI, walau dituntut memperhatikan sasaran pembangunan, serta masuknya prinsip bank syariah dalam perbankan Indonesia.

Tetapi prinsip vital dalam perbankan Indonesia ialah bank sentral independen, dan tugas utama ialah menjaga kesatabilan nilai rupiah. Tidak ada kewajiban bagi BI untuk membentuk kebijakan moneter sesuai dengan tuntutan untuk mengurangi tingkat pengangguran misalnya. Padahal pengangguran dapat menjadi pemicu ketimpangan dalam berbagai bentuk. Ini lebih bernuansa mendekati prinsip ECB, dan jauh dari prinsip The Fed yang terlihat begitu ketat memperhatikan tingkat pengangguran.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*